Bukankah sudah larut? Masihkah aku berkutat pada hal yang sama? Bual jika waktu tidak andil. Nampaknya kamu enggan melepas bintang yang jatuh. Terlalu banyak yang berserakan. Tapi nihil untuk aku bersihkan. Rentang tangan tidak cukup kokoh untuk menahan lampau. Telapak dan jemari masih payah.

Aku tersadar, bintangmu tak pernah jatuh. Mereka membuat rapuh dalam angan yang separuh penuh. Bukan lagi bersetubuh.

Kamu terpopuler di kepalaku. Bahkan saat aku tidur. Kepalaku tetap sibuk olehmu. Sungguh lampaumu menguasai. Setiap mengingatmu : silam terbagai goda. Kita bertukar diam dalam pelukan.

Saat segala pikiran sudah berontak. Hadir senyummu membuatku berpikir ganda. Aku berhutang kasih.

Tolong. Biarkan seluruh bintang pergi. Tubuhku masih enggan untuk mengerti.

--

--